http://emoticongue.blogspot.com -->

.t.h.e. .l.a.m.p. .p.o.s.t.

Tuesday, February 28, 2006

Berapa SKS anda tidur?

Kuliah adalah hak dan kewajiban setiap mahasiswa. Mengerjakan tugas adalah pilihan yang harus diambil =p Dalam sistem pendidikan tinggi di Indonesia, terutama di ITS diberlakukan sistem SKS(Sistem Kredit Semester). Setiap matakuliah diberi beban SKS. Apa artinya 1 sks di bawah ini(dikutip dari peraturan akademik ITS):

Beban Studi

Beban studi mahasiswa dinyatakan dalam Satuan Kredit Semester (SKS). Makna SKS dalam hal ini adalah:

  • Makna Kuliah 1 SKS:
    Beban mengikuti tiga kegiatan per minggu: 50 menit tatap muka dengan dosen, 50-100 menit kegiatan terstuktur, 50-100 menit kegiatan akademik mandiri
  • Makna Responsi 1 SKS:
    Beban mengikuti dua kegiatan per minggu: 50-100 menit tatap muka terjadwal, 100 menit kegiatan mandiri
  • Makna Praktikum/Studio 1 SKS:
    Beban tugas di laboratorium/studio selama 4-5 jam per minggu
Hal ini berarti bahwa setiap mahasiswa ITS "normal"(kata normal adalah sesuatu hal yang rancu, terutama untuk mahasiswa ITS mengingat tidak mandi 3 hari adalah "normal"di ITS) akan menghabiskan waktu 10 jam sehari, 5 hari seminggu untuk belajar. Dan tidak setiap mahasiswa di ITS se-"normal" itu. Ada yang mengambil 19, 20 sampai 24 sks bahkan lebih.

Bila kita kuliah di TC ITS, sangatlah wajar jika berada di lab jam 12 malam. Entah kita ngerjain tugas sampai pagi, berdiskusi (menurut senior saya, diskusi adalah roh dari mahasiswa), atau mereka yang sudah bosan dengan itu semua, dan stress abis akan melampiaskan agresivitasnya lewat sebuah komputer(baca: nge-game, browsing, mbajul lewat chatting). Hal ini menyebabkan mahasiswa TC ITS sangat akrab dengan kehidupan malam -- mending di kafe to bar, ndugem kok di kampus =( -- dan menjadi terbiasa menjadi manusia2 penguasa malam.

Kehidupan malam mahasiswa TC berimbas pada waktu tidur mereka. Kalo malam melekan, kapan tidurnya? Ya pagi sampai sore. Trus kapan kuliah? ya pagi sampai sore.

Kuliah adalah pembuktian sahih dari teori quantum. Dalam teori quantum dijelaskan bahwa benda yang bergerak mendekati kecepatan cahaya maka waktu akan melambat. Hal ini terbukti di ruang kuliah. Waktu kuliah yang hanya 2,5 jam terasa seperti 150 menit. 150 menit itu akan terasa suangat lama di tempat kuliah.

Dan teori relativitas lain adalah benda yang bergerak mendekati kecepatan cahaya maka massanya akan bertambah. Di ruang kuliah gravitasi menjadi lebih berat terutama untuk bagian pelupuk mata dan kepala.

Pembuktian teori kuantum ini adalah suatu pembenaran untuk gejala anomali di TC, pindahnya kamar tidur mahasiswa ke ruang kelas. Dalam suatu kuliah, apapun itu, bisa dengan mudah ditemui, seorang atau kebih mahasiswa yang tertidur dalam kelas.

Jadi pertanyaan di atas bisa diulang lagi....

Berapa SKS anda tidur?

Labels: , , ,

Dipaksa Cuti, tanya kenapa?

2 semester ini, jika anda perhatikan, banyak fenomena aneh di kampus kita tercinta ITS, yaitu semakin banyak mahasiswa yang cuti. Ternyata sebagian besar mahasiswa itu cuti karena mereka terlambat membayar SPP dan Pembantu Rektor 1 menyarankan mereka untuk cuti.
Kata menyarankan agaknya suatu kata yang diperhalus. Karena para mahasiswa yang telat membayar SPP itu tidak memiliki pilihan lain selain cuti.Kebijakan 'keras' ini baru dilakukan mulai semester gasal 2005/2006. Menurut PR 1, sanksi ini adalah suatu edukasi untuk menegakan kedisiplinan di kampus ITS tercinta.
Memang, kedisplinan adalah suatu hal yang harus ditegakan. Memang, terlambat membayar SPP mempersulit administrasi di ITS. Tapi sebagaimana kebijakan publik, kebijakan ini layak untuk dikritisi.
Kritik pertama dari kebijakan ini adalah tidak adanya sosialisasi dari rektorat tentang kebijakan ini mengingat kebijakan ini adalah kebijakan publik dan merupakan kebijakan yang sangat serius. Meskipun dipaksa cuti berbeda dari skorsing (bukan bentuk skorsing yang diterima teman2 kita), tapi esensinya sama, mereka dilarang mengikuti perkuliahan. Hal ini seharusnya disosialisasikan kepada para mahasiswa, tapi sampai sekarang tidak ada sosialisasi resmi dari rektorat. Kita hanya mendengar dari cerita para korban cuti ini.
Kritik kedua adalah tentang dasar dari kebijakan ini. Hal ini berhubungan dengan tidak adanya sosialisasi, maka kita tidak mengetahui dasar dari sanksi dipaksa cuti ini. Dalam peraturan akademik yang ada di www.its.ac.id hal ini pun tidak tercantum. Jadi, apakah dasar kebijakan ini?

Hal ketiga yang harus dipertimbangkan adalah, seperti kata teman saya, waktu studi memang tidak dihitung jika cuti, tapi umur masih tetap jalan. Artinya meski tidak dihitung studi tetap saja kuliah kita molor. Tentu hal ini berefek besar pada seorang terpidana cuti.
Pertanyaannya adalah apakah terlambat membayar SPP itu sebuah pelanggaran yang sedemikian parahnya sehingga harus dipaksa cuti? Apakah tidak ada sanksi lain yang lebih edukatif dari dipaksa cuti?
Kata dosen SI saya dulu, waktu kuliah banyak-banyaklah membuat kesalahan, tapi kayaknya setiap kesalahan di ITS hukumannya sangat edukatif. Jadilah kita akhirnya dipaksa untuk harus nurut dan berusaha bersikap sempurna di hadapan semua peraturan di ITS. Ataukah kata edukatif berarti guru selalu benar?

Hanya seorang mahasiswa yang tergelitik dengan fenomena cuti

Labels: , , ,