http://emoticongue.blogspot.com -->

.t.h.e. .l.a.m.p. .p.o.s.t.

Thursday, December 14, 2006

Kata-kata Indah is Bullshit!

Akhir-akhir ini aku sering membaca kata-kata:
"Saran akan kami pertimbangkan"
atau
"Akan kami perbaiki"

dan akhirnya kata-kata itu hanya menjadi pajangan yang indah dari suatu ketidakpedulian.
Jangan bilang "akan kami perbaiki" jika cuman membuat kami menunggu tanpa kepastian.

Apa sih susahnya komitmen?
Bedakan dengan ini:
"Akan kami perbaiki, tunggu tanggal 15 Desember nanti"
"Akan kami selesaikan dalam 24 jam"


Ah.. what the hell.....

Labels: ,

Thursday, November 02, 2006

Ketika diusir dari rumah sendiri

Apa yang membuat sebuah bangunan menjadi "rumah"? menurut Mbah Wiki, definisi rumah adalah:
A home is a place where a person or family lives, perhaps spends much of their time, or where a person is comfortable being.
Rumah adalah tempat yang nyaman bagi seseorang. Dan oleh karena itu, dimanapun seseorang merasa nyaman dia berkata,"It's feel like home" atau jika kita ingin menghilangkan kecanggungan seorang tamu kita bilang,"Anggap aja rumah sendiri"

Sebuah rumah identik dengan kenyamanan, tapi bagaimana jika rumah anda dipasangi gembok, yang bukan anda sendiri yang memasangnya? Atau anda dipaksa meninggalkan rumah anda jam 9 malam sampai jam 8 pagi? Masihkah tempat itu dianggap rumah?

Ini ngomongin apa sih?
Ini ngomongin sebuah rumah kecil yang berukuran 4x6 meter bernama TC-225, bagi yang belum tahu itu adalah kode ruangan untuk sekretariat HMTC-ITS.

HMTC telah kehilangan sebagian hak atas rumahnya, mereka kehilangan hak untuk menempati rumah mereka pada jam 21 - 8 pagi. hak itu dicabut seiring diterbitkannya surat dari dekan bernomor 823/K03.6/PP/2006. Rumah-nya HMTC telah dibuat tidak nyaman, sehingga HMTC sudah tidak memiliki rumah lagi.

Kenapa hal ini terjadi?
Alasannya adalah demi menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan kampus ITS (resminya).
Jadi selama ini Rumah-nya HMTC pada jam 21-8 berubah jadi sarang penyamun????
Suatu alasan yang tidak logis dan dibuat-buat untuk membatasi Hak Untuk Berserikat dan Berkumpulnya mahasiswa TC-ITS.

lalu, TANYA KENAPA?

Labels: , ,

Tuesday, February 28, 2006

Dipaksa Cuti, tanya kenapa?

2 semester ini, jika anda perhatikan, banyak fenomena aneh di kampus kita tercinta ITS, yaitu semakin banyak mahasiswa yang cuti. Ternyata sebagian besar mahasiswa itu cuti karena mereka terlambat membayar SPP dan Pembantu Rektor 1 menyarankan mereka untuk cuti.
Kata menyarankan agaknya suatu kata yang diperhalus. Karena para mahasiswa yang telat membayar SPP itu tidak memiliki pilihan lain selain cuti.Kebijakan 'keras' ini baru dilakukan mulai semester gasal 2005/2006. Menurut PR 1, sanksi ini adalah suatu edukasi untuk menegakan kedisiplinan di kampus ITS tercinta.
Memang, kedisplinan adalah suatu hal yang harus ditegakan. Memang, terlambat membayar SPP mempersulit administrasi di ITS. Tapi sebagaimana kebijakan publik, kebijakan ini layak untuk dikritisi.
Kritik pertama dari kebijakan ini adalah tidak adanya sosialisasi dari rektorat tentang kebijakan ini mengingat kebijakan ini adalah kebijakan publik dan merupakan kebijakan yang sangat serius. Meskipun dipaksa cuti berbeda dari skorsing (bukan bentuk skorsing yang diterima teman2 kita), tapi esensinya sama, mereka dilarang mengikuti perkuliahan. Hal ini seharusnya disosialisasikan kepada para mahasiswa, tapi sampai sekarang tidak ada sosialisasi resmi dari rektorat. Kita hanya mendengar dari cerita para korban cuti ini.
Kritik kedua adalah tentang dasar dari kebijakan ini. Hal ini berhubungan dengan tidak adanya sosialisasi, maka kita tidak mengetahui dasar dari sanksi dipaksa cuti ini. Dalam peraturan akademik yang ada di www.its.ac.id hal ini pun tidak tercantum. Jadi, apakah dasar kebijakan ini?

Hal ketiga yang harus dipertimbangkan adalah, seperti kata teman saya, waktu studi memang tidak dihitung jika cuti, tapi umur masih tetap jalan. Artinya meski tidak dihitung studi tetap saja kuliah kita molor. Tentu hal ini berefek besar pada seorang terpidana cuti.
Pertanyaannya adalah apakah terlambat membayar SPP itu sebuah pelanggaran yang sedemikian parahnya sehingga harus dipaksa cuti? Apakah tidak ada sanksi lain yang lebih edukatif dari dipaksa cuti?
Kata dosen SI saya dulu, waktu kuliah banyak-banyaklah membuat kesalahan, tapi kayaknya setiap kesalahan di ITS hukumannya sangat edukatif. Jadilah kita akhirnya dipaksa untuk harus nurut dan berusaha bersikap sempurna di hadapan semua peraturan di ITS. Ataukah kata edukatif berarti guru selalu benar?

Hanya seorang mahasiswa yang tergelitik dengan fenomena cuti

Labels: , , ,

Thursday, January 05, 2006

Skorsing

Banyak pucuk surat cinta melayang dari rektorat siang ini.
Mereka didakwa dengan tuduhan mengadakan format tanpa ijin.
Hmm.....

kenapa birokrat ITS semena-mena?
kapan ada crosscheck dengan mahasiswa?

Ah...
bullshit semua....
mereka bilang ini untuk pendidikan...
kenapa mereka buat peraturan sepihak?

Mboh kah....
Dunia memang aneh...

Labels: , ,